Oleh: Senior Chemical Safety Engineer NodeMedic
Jika Anda adalah Manajer Laboratorium yang memiliki instrumen Atomic Absorption Spectroscopy (AAS)tipe Flame, bacalah artikel ini dengan seksama. Nyawa tim Anda mungkin bergantung padanya.
AAS menggunakan gas Asetilen ($C_2H_2$) sebagai bahan bakar utama untuk menciptakan nyala api. Karena sifatnya yang mudah terbakar, instalasi gas asetilen membutuhkan standar keselamatan yang jauh lebih ketat daripada gas inert.
Sayangnya, saya masih sering menemukan kontraktor MEP awam yang melakukan kesalahan fatal: Menggunakan Pipa Tembaga (Copper Tube) untuk menyalurkan gas Asetilen. Alasannya klasik: “Pipa tembaga murah, mudah ditekuk, dan biasa dipakai di instalasi AC.”
Sebagai Safety Engineer, saya tegaskan: Ini adalah tindakan kriminal dalam dunia engineering.
Mengalirkan asetilen melalui pipa tembaga sama dengan merakit “bom waktu” di dalam laboratorium Anda. Keamanan adalah fondasi utama dari desain sistem gas laboratorium, melebihi estetika atau biaya.
[BACA JUGA: Panduan Lengkap Sistem Gas Sentral Laboratorium: A-Z Desain & Instalasi]
Mari kita bedah secara ilmiah mengapa pipa tembaga haram hukumnya untuk instalasi gas Asetilen.

Reaksi Kimia Mematikan: Copper Acetylide
Bahaya ini bukan mitos, melainkan fakta kimia dasar.
Gas Asetilen ($C_2H_2$) adalah hidrokarbon yang sangat reaktif. Ketika gas ini bersentuhan dengan permukaan logam Tembaga Murni (Cu), akan terjadi reaksi kimia pembentukan senyawa baru yang disebut Copper(I) Acetylide.
Persamaan reaksinya adalah:
$$C_2H_2 + 2Cu \rightarrow Cu_2C_2 + H_2$$
Apa itu Copper Acetylide ($Cu_2C_2$)?
Ini adalah endapan padat berwarna kemerahan yang akan menempel di dinding dalam pipa. Senyawa ini bersifat Sangat Tidak Stabil dan Eksplosif.
Berbeda dengan gas LPG yang butuh percikan api untuk meledak, Copper Acetylide dapat mengalami Ledakan Spontan (Spontaneous Combustion) hanya karena pemicu fisik ringan, seperti:
- Gesekan: Saat pipa tergores atau bergetar.
- Guncangan: Saat teknisi memukul pipa untuk maintenance.
- Panas: Kenaikan suhu ruangan sedikit saja.
Bayangkan jika endapan ini terbentuk di jalur pipa sepanjang 20 meter di plafon laboratorium Anda. Satu guncangan kecil bisa memicu reaksi berantai yang menghancurkan seluruh jalur instalasi.
Aturan Teknis “The 65% Rule”
Dunia internasional tidak main-main soal ini. Standar keselamatan global seperti NFPA 51A (Standard for Acetylene Cylinder Charging Plants) dan CGA G-1.2 (Acetylene Piping) memiliki aturan emas yang disebut “Aturan 65%”.
ATURAN KERAS:
“Pipa, valve, atau fitting yang digunakan untuk jalur gas Asetilen TIDAK BOLEH mengandung bahan Tembaga (Copper) murni lebih dari 65%.”
Implikasinya:
- Pipa Tembaga Murni (Copper Tube): Biasanya mengandung >99.9% Tembaga. Status: DILARANG KERAS / HARAM.
- Kuningan (Brass): Merupakan campuran Tembaga (<60%) dan Seng (40%). Status: BOLEH DIGUNAKAN (Aman untuk valve/regulator).
Jadi, jika kontraktor Anda menawarkan pipa tembaga gulungan (seperti pipa AC) untuk gas untuk aas, tolak mentah-mentah!
Solusi Material yang Aman
Lalu, apa material yang wajib digunakan untuk instalasi gas asetilen?
Satu-satunya material yang paling direkomendasikan, tahan korosi, dan sepenuhnya inert (tidak bereaksi) terhadap asetilen adalah Stainless Steel 316L.
- Stainless Steel 316L: Kandungan nikel dan kromiumnya mencegah pembentukan acetylide.
- Carbon Steel (Pipa Hitam): Aman secara kimia, tapi jarang dipakai di lab instrumen karena mudah berkarat (korosi) yang bisa menyumbat nebulizer AAS.
Satu-satunya material yang aman dan inert untuk Asetilen adalah Stainless Steel 316L.
[BACA JUGA: Tubing Gas Laboratorium: Mengapa Wajib Stainless Steel 316L (Bukan Tembaga)?]
Fitur Keselamatan Tambahan untuk AAS
Selain material pipa, sistem gas AAS memiliki risiko “Flashback” (Api balik). Jika tekanan gas turun mendadak, api dari burner AAS bisa menyedot masuk ke dalam selang dan pipa, memicu ledakan tabung.
Untuk mencegah ini, sistem gas AAS WAJIB dilengkapi:
- Flashback Arrestor (FBA): Alat ini berisi sintered metal yang berfungsi memadamkan api seketika jika terjadi arus balik. FBA wajib dipasang di dekat regulator tabung dan di dekat instrumen.
- Gas Detector (Lel Detector): Sensor untuk mendeteksi kebocoran gas asetilen di ruangan.
- Chain Restraint: Rantai pengikat tabung gas agar tidak jatuh dan mematahkan katup.
Selain pipa yang benar, jalur asetilen WAJIB dilengkapi Flashback Arrestor dan sistem deteksi dini.
[BACA JUGA: Sistem Keamanan Gas Laboratorium: Gas Detector & Solenoid Interlock]
Kesimpulan & Peringatan Keras
Sebagai penutup, saya ingin memberikan peringatan serius kepada seluruh pengelola laboratorium:
JANGAN PERNAH BERJUDI DENGAN GAS ASETILEN.
Bahaya copper acetylide adalah ancaman nyata yang sering diabaikan karena ketidaktahuan. Ledakan akibat kelalaian ini tidak hanya merusak alat seharga miliaran rupiah, tapi juga bisa merenggut nyawa staf laboratorium Anda.
TINDAKAN SEKARANG:
Periksa jalur pipa gas AAS Anda hari ini juga.
- Jika warnanya kemerahan/coklat tembaga (seperti pipa AC) $\rightarrow$ STOP OPERASI SEKARANG JUGA!
- Segera kosongkan jalur dan ganti instalasi dengan Stainless Steel 316L.
Jangan menunggu insiden terjadi.
Butuh inspeksi keamanan atau re-instalasi jalur gas AAS yang sesuai standar NFPA?
Hubungi tim Safety Engineer NodeMedic untuk audit segera.
[INSPEKSI & PERBAIKAN: Jasa Instalasi Gas Laboratorium Sentral: Standar UHP & Safety]
Telp : +62 81214880612
WA : 081214880612
Web : https://nodemedic.com














